Poster Kampanye Bayar Ke Rakyat

Februari 20, 2013

Ilustrasi| http://kaliaja.blogspot.com/


Pilkada NTB, Lotim,& Kota Bima 13 Mei 2013 | Sudah berada didepan mata, tempat tinggal kita pun sudah mulai diwarnai dengan berbagai bentuk poster dengan berbagai ukuran dan model. Meraka biasanya menempelkan poster dimana-mana (asal bisa dilihat orang banyak). Lorong-lorong gang, jembatan, bibir-bibir jalan raya, trotoar, bahkan pohon pun bisa jadi 'korban'. Poster-poster para kandidat dengan wajah selalu tersenyum itu bersaing dengan tempelan poster-poster iklan seperti iklan rokok, operator seluler dan lainnya.

Poster-poster yang dipasang diberbagai tempat itu, tentu tidak lepas dari pajak, tapi entah kenapa petugas pajak tak menagih mereka segigih menagih pajak kepada rakyat kecil, Pajak itupun nanti ujung-ujungnya dikorupsi, pajak-pajak kita habis dikemanain aja ya,........... pajak kurang begitu dirasakan oleh rakyat kecil.

Nah sobat bagaimana kalau kita sebagai masyarakat memanfaatkan moment ini untuk memungut retribusi untuk poster-poster yang dipasang disekitar kita ? besaran retribusi tergantung dari ukuran poster yang dipasang, dan tingkat lokasi strategis yang dipilih.
Dari pada merusak pemandangan, lebih baik kita manfaatkan untuk membantu warga setempat yang kurang mampu,anak-anak yatim atau bisa dimasukkan kedalam kas RT/RW. Hitung-hitung untuk mensejahterakan rakyat secara langsung, tunai, dan transparan. Tapi ini bukan termasuk money politics yang difatwa haram MUI itu kan,…???? insya Alloh enggak dech,..

Potret Wakil Tuhan

Februari 12, 2013



Masih ingatkah anda pernyataan seorang calon Hakim Agung saat uji kelayakan oleh anggota DPR ? ya beliau adalah Dr. Muh. Daming Sunusi, DH, M.Hum yang saat ini masih menjabat sebagai hakim dari Pengadilan Tinggi Banjarmasin, salah satu dari 12 calon hakim agung yang sedang mengikuti uji kelayakan dan kepatutan hakim agung. Sunggung sangat mengagetkan ketika salah seorang politisi PAN anggota komisi III DPR RI meminta pendapat calon hakim agung ini tentang kasus pemerkosaan.

"Bagaimana menurut anda, apabila kasus perkosaan ini dibuat menjadi hukuman mati?" tanya Anggota Komisi III dari Fraksi PAN, Andi Azhar kepada Muh. Daming, lantas beliau menjawab dengan jawaban yang diluar dugaan dan tidak sepantasnya keluar dari mulut seorang hakim sebagai "wakil tuhan" di Dunia. Dengan spontan Daming menjawab,

"Yang diperkosa dengan yang memerkosa ini sama-sama menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati."

Jawaban tersebut kontan disambut tawa dari segenap anggota DPR yang sedang melakukan pengujian calon hakim agung tersebut (Metro TV).

Komentar :

Pernyataan yang memang sangat tidak pantas itu pun langsung menuai kecaman bertubi-tubi kepada Daming. Daming memang layak mendapat kecaman bertubi-tubi itu, dan tidak layak untuk menjadi hakim agung. Pernyataan tersebut seharusnya sudah cukup membuat Komisi III DPR mengdiskualisifikasikan Daming sebagai calon hakim agung.

Seharusnya Mahkamah Agung juga bereaksi cepat untuk menjatuhkan sanksi kepada Daming. Minimal sebuah teguran keras atau skorsing. Jangankan sebagai hakim agung, sebagai hakim PN pun sebenarnya Daming sudah tidak patut lagi.

Tetapi, kenapa kecaman hanya ditujukan kepada Hakim Muhammad Daming Sunusi? Seharusnya kecaman juga ditujukan kepada anggota DPR yang mengrespon enteng pernyataan Daming tersebut, bahkan mereka spontan tertawa ceriah mendengar ucapan yang tidak pantas itu. Itu artinya, sikap mereka terhadap korban perkosaan, tak ada bedanya dengan Hakim Daming.

Walaupun Daming sudah meminta maaf terhadap pernyataannya tersebut, tapi apa ta dikata nasi sudah menjadi bubur. Dari sini kita bisa mengambil hikmah untuk kita renungkan bahwa benar apa yang dikatakan dalam sebuah pepatah "Mulutmu Harimaumu" | "Lisan lebih tajam dari pedang", begitulah kalau kita kurang menjaga lisan , akhirnya akan mengakibatkan kerugian terhadap diri sendiri dan bahkan orang lain.

# Surat Al-A`rof ayat 40:

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan."

# "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam." [HR. Al-Bukhari dalam al-Adab hadits (6018) dan Muslim hadits (47).]
# Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 [3] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :

"Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat"


Oleh : M Jalaluddin Jabbar
E-Mail  : mjalaluddinjabbar@gmail.com
Url Blog  : mjalaluddinjabbar.blogspot.com